Manusia Linuwih atau Ratu Adil dalam Kehidupan
Setiap perubahan besar dalam sejarah selalu menghadirkan sesosok manusia linuwih kharismatik yang mampu menggerakkan dunia melakukan perubahan. Patriot linuwih itu kini semakin dirindukan ketika warga menghadapi berbagai kesulitan akibat kenaikan harga BBM, bencana alam, perubahan iklim, dan salah urus sumber daya alam, selain ancaman hilangnya saling percaya dalam kehidupan sosial.
Setelah lebih dari setengah abad merdeka, bangsa ini membutuhkan kehadiran sosok pemimpin, apakah presiden serta ketua partai atau gerakan keagamaan, yang sukarela menyedekahkan hidupnya bagi kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang menempatkan diri sebagai martil bagi bagian terbesar bangsanya. Ironisnya, kini semakin langka, bahkan mustahil, kehadiran sosok pemimpin bangsa yang sekaligus patriot ketika materialisme hedonis seperti tumbuh sebagai ruh perpolitikan nasional dan dinamika keagamaan negeri ini.
Kenaikan harga BBM kali ini seperti sebelumnya, secara niscaya diikuti kenaikan harga kebutuhan bahan pokok, yang sudah naik sejak beberapa waktu lalu akibat krisis pangan dunia Situasi demikian semakin mempersulit warga memenuhi hajat hidup, kebutuhan makan, transportasi, kesehatan, pendidikan sandang, dan papan. Kesulitan warga itu semakin berlipat ketika peluang kerja tidak cukup tersedia, bekerja dengan upah rendah, gagal panen akibat bencana alam, serta kecenderungan elite pusat dan daerah yang semakin tidak peduli penderitaan rakyat.
Kategori Sesat
Harapan warga kebanyakan memperoleh kebaikan hidup sesudah reformasi 1998 semakin redup ketika elite negeri ini sibuk meraup keuntungan dari gaji dari suap dengan berbagai cara licik sehingga sulit dilacak sebagai tindakan korupsi. Sementara gerakan keagamaan lebih sibuk melakukan klaim kebenaran sepihak atas nama kebenaran tunggal wahyu Tuhan. Rakyat disuguhi pameran kekayaan elite yang menumpuk ratusan juta rupiah dengan cara-cara busuk pada saat banyak warga kelaparan. Sementara harapan surgawi warga kebanyakan terancam kategori sesat karena berbeda dengan kehendak sang pemimpin.
Bangsa ini memiliki kerangka nilai fundamental yang dikenal sebagai dasar negara, yaitu Pancasila, yang bisa menjadi pedoman bagaimana menjalani hidup bersama sebagai bangsa, termasuk bagaimana mengelola perbedaan dan mengolah sumber daya alam yang lebih menjanjikan keadilan dan kesejahteraan sosial. Namun, lima prinsip dasar itu semakin rapi tersimpan dalam laci museum sehingga gagal menjadi pemandu pengelolaan hidup berbangsa dan bernegara yang aman, damai, sejahtera, dan harmonis.
Seorang guru besar Universitas Sungkonghoe, Profesor Ki Ho, saat berkunjung ke negeri ini, mengajukan pertanyaan sederhana, tapi membutuhkan jawaban yang cukup rumit. Pertanyaan itu ialah, “Bagaimana mungkin suku-suku bangsa dengan agama dan bahasa berbeda, warna kulit beragam, dan tradisi yang multi itu bisa menyatukan diri dalam sebuah bangsa, Indonesia, dan setia mempertahankan kebangsaannya itu?”
Pertanyaan di atas membangkitkan imajinasi satu abad kelahiran Boedi Oetomo dan menerabas ke era kerajaan besar Nusantara saat Eropa dan bangsa-bangsa Barat belum menemukan pencerahan. Bukti-bukti fisik berupa candi-candi besar, seperti Prambanan, Borobudur, dan Dieng, dan beberapa artefak di Sumatera, Kalimantan, dan Indonesia Timur, serta naskah-naskah kuno di seantero Nusantara menunjukkan kcbesaran dan kemajuan peradaban bangsa ini dalam sebuah tatanan komunitas yang kemudian menjadi akar keberadaan sebuah bangsa.
Bukan bangsa “tiban”
Bagi warga negeri ini, imajinasi itu penting guna menumbuhkan kesadaran nilai eksistensi sebagai bangsa dan bagi pemahaman dinamika kebangsaan di tengah deraan krisis sosial, ekonomi, politik, dan keagamaan yang masih terus menyergap sesudah satu dasawarsa reformasi 1998. Keberadaan kebangsaan dan nasionalitas negeri ini bukan sesuatu yang datang dari langit sebagai “bangsa tiban” atau “nasionalisme tiban”, tapi suatu bentuk kebangsaan yang secara sadar memang diperjuangkan perwujudannya dalam realitas sejarah.
Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945 dan Reformasi 1998 merupakan hasil pergulatan panjang berbagai komponen warga negeri ini untuk memberi makna kehidupan bersama. Demikian pula gagasan tentang Kebangkitan Nasional II 2008, memerlukan perjuangan dan pengorbanan serta kesadaran kolektif bangsa ini untuk diwujudkan. Krisis multiaspek dan multifaset berkepanjangan merupakan salah satu petunjuk perlunya pengorbanan perjuangan dan penyadaran bersama mengenai nasib bangsa ini pada masa depan.
Situasi sosial, politik, ekonomi, dan keberagamaan satu abad lalu berbeda dengan saat ini ketika anak-anak SD terbiasa berkomunikasi dengan sebaya melalui Internet atau telepon seluler. Satu abad lalu, seseorang bisa terlibat aktif dalam perjuangan bangsa tanpa harapan memperoleh jabatan karena jabatan bukan sarana terpenting memenuhi kebutuhan hidup atau meneguhkan status sosial. Saat ini partai politik hingga gerakan keagamaan dan LSM seolah bekerja hanya untuk suatu jabatan, yang dengan itu bisa diperoleh keuntungan materiil dan kehormatan.
Pada masa lalu, hadir Sosok Wahidin Sudirohusodo, Soekarno, Hatta, Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Ibu Kartini, Pangeran Diponegoro dan banyak pejuang patriot. Saat ini ditunggu kehadiran sosok pemimpin patriot atau patriot pemimpin yang mau dan bisa menunjukkan aksi konkret bagi pembangkitan partisipasi publik dalam bentuk gerakan nasional memecahkan kesulitan ekonomi, saling percaya antara berbagai komponen bangsa dari beragam keagamaan, suku dan ideologi partai.
Sesosok pemimpin yang bisa muncul dari partai politik, gerakan keagamaan, LSM, lembaga pendidikan, tentara, dan polisi yang dengan jelas dan riil menjadikan dirinya sebagai contoh pengorbanan waktu, harta, gaji hingga keprotokolerannya untuk kepentingan rakyat banyak, tanpa peduli nasibnya sendiri. Tindakan seperti demikian itu akan menjadi magnet besar yang menggerakkan seluruh komponen bangsa melakukan pengorbanan yang jauh lebih besar bagi kepentingan rakyat banyak dan bangsanya.
Nabi-nabi besar dan orang-orang suci dalam sejarah keagamaan, seperti Nabi Musa, Isa atau Yesus, Nabi Muhammad, Sidharta Gautama, dan Ibu Teresa, Wali Songo menunjukkan bagaimana membangkitkan gerakan kolosal yang mendunia. Semua itu mereka lakukan karena memahami apa yang akan terjadi pada masa depan. Sosok demikianlah yang dikenal dengan manusia linuwih (Jw) atau makrifat (dalam tradisi Sufi), yaitu seseorang yang ngerti sadurunging winarah (Jw; mengerti sebelum kejadian).
Bangsa ini merindukan kehadiran seorang pemimpin yang yakin dan bekerja atas dasar pengorbanan. Pemimpin yang meyakini bahwa hanya dengan kesediaan berkorban bagi dirinya itu masyarakatnya akan tergerak melakukan tindakan yang lebih arif dan bijak bagi kebaikan hidup rakyat banyak. Seorang pemimpin patriot yang memiliki etika profetik atau kenabian yang kritis dan humanis, yaitu manusia linuwih yang lebih mementingkan aksi konkret bagi kesejahteraan dan kebahagiaan di masa depan bagi bangsanya, bukan bagi golongannya sendiri, apalagi bagi keluarga dan kroni-kroninya.
MENYIKAPI PERBEDAAN
DEMI KEBAIKAN MASA DEPAN
Hari ini kita dipertontonkan keanehan sebagian kelompok dan golongan yang mestinya saling rukun dan damai ….. tiba-tiba menjadi bengis, pemarah, pembenci bahkan dengan teriakan Allahu Akbar, Allahu Akbar, teriakan yang harusnya hanya pantas untuk perang melawan kafir dan untuk menyeru kita semua menuju masjid untuk melaksanakan sholat, tapi seruan ini malah digunakan untuk gebukin (mukuli) ibu-ibu dan anak-anak yang tak berdosa, tanpa bermaksud menyalahkan ! Mari kita hentikan kekerasan ! hentikan perpecahan, FPI adalah saudara, PKS adalah saudara, Hizbut Tahrir adalah saudara, apalagi NU dan Muhammadiyah pasti lebih dari saudara. Dia adalah famili…… satu darah, satu aliran, satu keyakinan, satu akidah. Berkiblatlah pada PPP (Ka’bah).
Mari sikapi perbedaan dengan mengembangkan ilmu dialog dan musyawarah yang telah dicontohkan Rasulullah Muhammad saw, bahkan Al Qur’an dan Allah menciptakan kita tidak ada yang sama ! Lihat cap jempol kita, ini bukti Allah SWT menciptakan kita berbeda-beda.
Secara kasat mata, apa yang kita lihat sepanjang sejarah manusia adalah paradoks. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang rupawan, ada juga yang buruk rupa. Ada yang kasar, ada pula yang lembut hati. Ada yang hidupnya bahagia, ada juga yang dikepung penderitaan. Begitu seterusnya, sampai tak terhingga.
Realitas faktual benar-benar plural, dari hal-hal yang terkecil hingga hal-hal yang besar. Namun, semua ini bukan berarti Allah, Sang Pencipta, kurang adil terhadap makhluk-Nya. Perbedaan-perbedaan ini harus dilihat dalam kerangka keterpasangan, bukan ketimpangan (QS Al Fathir [35]: 11, Thaha [20]: 53).
Kehidupan ini ibarat perlombaan maraton. Bedanya, dalam perlombaan yang satu ini, kita berada pada garis start yang berbeda-beda. Tapi, itu bukannya tidak adil. Sebab, memungkinkan untuk dijangkau oleh semua pihak. Garis finish itu adalah takwa, semua pelari, bahkan yang berada di garis paling belakang pun, punya peluang yang sama untuk mencapai garis finish. Yang berada di belakang pun sangat mungkin sampai terlebih dahulu dan meraih juara pertama. Semua ini tergantung kesadaran, kemauan, dan kesungguhan masing-masing dalam mencapainya.
Semua yang diciptakan Allah tak satu pun ada yang sia-sia tanpa tujuan (QS Ali lmran [3]: 191). Semua ciptaan Allah punya maksud dan tujuan terbaik untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Sesungguhnya, di balik semua keunikan realitas ini tersimpan hikmah dan rahasia Ilahi yang tidak semuanya dapat kita ketahui.
Yang harus diwaspadai adalah jika perbedaan ini disalahgunakan untuk maksud-maksud jahat. Adanya pihak yang lemah tentu saja membuka peluang bagi yang kuat untuk menindasnya. Tidak ada yang sia-sia tanpa tujuan (QS Ali lmran [3]: 191). Semua ciptaan Allah punya maksud dan tujuan terbaik untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Sesungguhnya, di balik semua keunikan realitas ini tersimpan hikmah dan rahasia Ilahi yang tidak semuanya dapat kita ketahui.
Yang harus diwaspadai adalah jika perbedaan ini disalahgunakan untuk maksud-maksud jahat. Adanya pihak yang lemah tentu saja membuka peluang bagi yang kuat untuk menindasnya.
Adanya pihak yang berkuasa tentu mengundang peluang untuk melakukan pemaksaan terhadap pihak yang berada dalam kekuasaannya.
Kelebihan tertentu yang diberikan pada seseorang bisa saja membuatnya bertindak zalim dan mendiskreditkan orang lain. Jika ini yang terjadi, akal sehat tentu dapat mengerti bahwa semua itu harus dihentikan. Itu adalah penyikapan yang salah atas perbedaan, yang bertentangan dengan tujuan baik penciptaan.
Pada hakikatnya, tak satu pun makhluk di dunia ini diciptakan Allah dalam kondisi sempurna. Masing-masing dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan. Karena itu, Allah memerintahkan agar satu sama lain tolong-menolong dalam kebaikan (QS Al Maidah [3]: 3) dan nasihat-menasihati (QS Al-Ashr [103]: 1-3). Sesungguhnya, perbedaan hanyalah tangga nada agar satu sama lain saling terjalin harmonis untuk menciptakan sebuah keadilan.
Harmoninya suatu kehidupan dibutuhkan ketulusan dan keikhlasan. Jika…. seseorang telah mencapai tingkat kehidupannya pada level ikhlas dan ridho, tulus dan ikhlas tanpa pernah membedakan warna kulit, keturunan, asal usul, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Manusia yang demikian telah berada pada syurga sejak ada di dunia. Di dunianya saja sudah syurga apalagi akheratnya. Wallahu a’lam.